Senin, 23 Desember 2013

Analisa dan Perancangan Sistem Pendukung Keputusan





Pengertian Sistem Pendukung Keputusan
Secara umum definisi DSS menunjukkan DSS sebagai sebuah system yang
dimaksudkan untuk mendukung para pengambil keputusan manajerial dalam situasi
keputusan semiterstruktur. DSS dimaksudkan untuk menjadi alat Bantu bagi para
pengambil keputusan untuk memperluas kapabilitas mereka, namun tidak untuk
menggantikan penilaian mereka. DSS ditujukan untuk keputusan-keputusan yang
memerlukan penilaian atau pada keputusan-keputusan yang sama sekali tidak dapat
didukung oleh algoritma.
DSS biasanya dibangun untuk mendukung solusi terhadap suatu masalah atau
untuk mengevaluasi suatu peluang. DSS yang seperti ini disebut aplikasi DSS. Aplikasi
DSS digunakan untuk pengambilan keputusan. Aplikasi DSS, menggunakan CBIS
(computer Based Information Systems) yang fleksibel, interaktif, dan dapat diadaptasi,
yang dikembangkan untuk mendukung solusi untuk masalah manajemen spesifik yang
tidak terstruktur. Aplikasi DSS menggunakan data, memberikan antarmuka pengguna
yang mudah, dan dapat menggabungkan pemikiran pengambilan keputusan.
Tujuan Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Ada berbagai alas an mengapa system pendukung keputusan diperlukan, (Efrain
Turban, Jay E. Aronson dan Ting Peng Liang, Decision Support System and Intelligent
Systems, Edisi 7, Jilid 1, 2005 : 12), antara lain:
1. Kecepatan komputasi
2. Peningkatan produktifitas
3. Dukungan kualitas
4. Berdaya saing: manajemen dan pemberdayaan sumber daya perusahaan
5. Mengatasi keterbatasan kognitif dalam pemrosesan dan penyimpanan
Jenis Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
DSS dapat dipilah sejalan dengan tingkat dukungannya terhadap pemecahan
masalah. Ada 6 jenis DSS (http://www.fortunecity.com), yaitu:
1. Retrieve Information Elements
2. AnalyzeEntire File
3. Prepare Reports From Multiple Files
4. Estimate Decision Consequences
5. Propose Decision
6. Make Decision
Model Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Penjabaran berikut akan memperlihatkan model tipikal DSS yang umum
dikembangkan. Dalam model ini terlihat bahwa data dan informasi mengenai lingkup
perusahaan dimasukkan ke dalam basis data (database). Selanjutnya basis data tersebut
akan dimanfaatkan oleh tiga sub sistem perangkat lunak, yaitu
(http://wwwfortunecity.com/):
a. Report-writing Software
b. Mathematical Models
c. Groupware
Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Karena tidak ada konsensus mengenai apa sebenarnya DSS, maka jelas tidak ada
kesepakatan mengenai karakteristik standart DSS. Berikut ini adalah karakteristik yang
diharapkan ada di DSS (Efraim Turban, jay E. Aronson dan Ting Peng Liang, Decision
Support and intelegent systems, edisi 7, jilid 1, 2005 : 140-143);
1. Dukungan untuk pengambil keputusan, terutama pada situasi semiterstruktur dan
tak terstruktur, dengan menyertakan penilaian manusia dan informasi
terkomputerisasi.
2. Dukungan untuk semu level manajerial, dan eksekutif puncak sampai manajer lini.
3. Dukungan untuk individu dan kelompok
4. Dukungan untuk keputusan independen dan atau sekuensial
5. Dukungan disemua fase proses pengambilan keputusan: inteligensi, desain, pilihan
dan implementasi.
6. Dukungan diberbagai proses dan gaya pengambilan keputusan.
7. Adaptivitas sepanjang waktu. Pengambilan keputusan seharusnya reaktif, dapat
menghadapi perubahan kondisi secara cepat, dan dapat mengadaptasikan DSS
untuk itu pengguna dapat menambahkan, menghapus, menggabungkan, mengubah,
atau menyusun kembali elemen-elemen dasar.
8. Pengguna merasa seperti di rumah.
9. Peningkatan terhadap keefektifan pengambilan keputusan (akurasi, timelines,
kualitas) ketimbang pada efisiensinya (biaya pengambilan keputusan
10. Kontrol penuh oleh pengambil keputusan terhadap semua langkah proses
pengambilan keputusan dalam memecahkan suatu masalah.
11. Pengguna akhir dapat mengembangkan dan memodifikasi sendiri sistem sederhana.
Sistem yang lebih besar dapat dibangun dengan bantuan ahli sistem informasi
12. Biasanya model-model untuk menganalisa situasi pengambilan keputusan.
Kapabilitas pemodelan memungkinkan eksperimen dengan berbagai strategi yang
berbeda di bawah konfigurasi yang berbeda.
Karakteristik dari DSS tersebut membolehkan para pengambil keputusan untuk
membuat keputusan yang lebih baik dan lebih konsisten pada satu cara yang dibatasi
waktu.
Komponen-Komponen Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Aplikasi DSS dapat terdiri dari beberapa subistem, seperti:
1. Subsistem manajemen data
2. Subsistem manajemen model
3. Subsistem antarmuka pengguna
4. Subsistem manajemen berbasis-pengetahuan
Berdasarkan definisi, DSS harus mencakup tiga komponen utama dari DBMS,
MBMS, dan antarmuka pengguna. Subsistem manajemen berbasis pengetahuan adalah
opsional, namun dapat memberikan banyak manfaat karene memberikan inteligensi bagi
tiga komponen utama tersebut. Seperti pada semusistem informasi manajemen,
pengguna dapat dianggap sebagai komponen DSS.
Kotak Alat Bantu (ToolBox) Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Pada dasarnya DSS terbentuk dari sekumpulan alat bantu (tools) pendukung
keputusan yang dapat diadaptasikan ke segala situasi. Kombinasi dari alat bantu ini
memungkinkan para manajer dapat memecahkan permasalahan yang spesifik, seperti
pada Gambar 2.3 (sumber:/www.fortunecity.com/).
Alat-alat bantu tersebut meliputi:
a. Application development
b. Data management
c. Modeling
d. Statistical Analysis
e. Planning
f. Inquiry
g. Graphics
h. Consolidations
i. Aplication-spesific DSS capabilities
Fase-Fase Proses Pengambilan Keputusan
Proses pemgambilan keputusan dimulai dari fase inteligensi. Realitas diuji, dan
masalah diidentifikasi dan ditentukan. Kepemilikan maslah juga ditetapkan. Pada fase
desain, akan dikostruksi sebuah model yang mereprensentasikan sistem. Hal ini
dilakukan dengan membuat asumsi-asumsi yang meyederhanakan relitas dan menulis
hubungan diantara semua variabel. Model ini kemudian divalidasi, dan ditentukan kriteria
dengan menggunakan prinsip memilih untuk mengevaluasi alternatif tindakan yang telah
diidentifikasi. Proses pengembangan model sering mengindikasikan solusi-solusi
alternatif, dan demiklian sebaliknya. Fase pilihan meliputi pilihan terhadap solusi yang
diusulkan untuk model (tidak memerlukan masalah yang disajikan). Solusi ini diuji guna
menentukan viabilitasnya: fase implementasi keputusan (tidak memerluikan sebuah
sistem).
DSS Institusional.
a. Pendahuluan
Sistem Penunjang Keputusan yang dibuat untuk pengalokasian anggaran dan
sumber daya, penjadwalan pemberangkatan (dispatching) kereta api, penentuan harga,
dan aplikasi akuisisi. Dua dari DSS yang dipelajari atau diteliti tsb digunakan secara
berkelanjutan, sedangkan dua lainnya digunakan untuk pembuatan keputusan secara
sesaat (satu kali). Donovan dan Madnick menamakan cara untuk pembuatan keputusan
secara berkelanjutan tsb, yaitu DSS institusional.
b. Kerangka Konseptual
Gorry dan Scott Morton mengkombinasikan kategori aktivitas manajerial dari
Anthony (yakni, kontrol operasional, kontrol manajemen dan perencanaan strategis)
dengan konsep pembuatan keputusan terstruktur dan tak terstruktur dari Simon untuk
membuat kerangka guna peninjauan sistem informasi1. Keen dan Scott Morton
mengidentifikasi keakuratan, umur informasi, tingkat kerincian, cakrawala waktu,
frekuensi penggunaan, sumber, lingkup informasi dan jenis informasi sebagai aspek
persyaratan informasi yang bervariasi menurut aktivitas manajerial2. Menurut Donovan
dan Madnick DSS institusional yang berkenaan dengan keputusan yang sifatnya
berulang-ulang. DSS institusional paling cocok untuk aplikasi kontrol operasional.
Client Side Scripting
Client side scripting merupakan bahasa pemrograman internet yang akan
dieksekusi oleh browser dalam format*.html. Biasanya client side yang digunakan untuk
hal-hal yang membutuhkan interaksi user tetapi data yang ditampilkan tetap sama
dengan menggunakan server side scripting.
Aplikasi web berjalan pada protokol HTTP, dan semua protokol di internet selalu
melibatkan antara server dan client. Ketika seseorang mengetikkan suatu alamat di
browser, maka browser akan mengirimkan perintah tersebut ke web server. Jika yang
diminta oleh client adalah file yang mengandung file client side maka oleh server file
tersebut akan langsung dikirimkan ke browser.
Client side scripting dikerjakan secara urut dari bagian paling atas script sampai
bagian paling bawah. Tanpa ada lompatan, perulangan dan sebagainya. Client side
scripting dapat dilihat melalui browser langsung dengan memilih menu view source,
sehingga keamanan script kurang terjaga.
1Gory, GA., and M.S. Scott Morton “ A Framework for Management Information Systems,” Sloan
Management Review, 12, no. 1 (Fall 1971),55-70.
2Keen, Peter G.W. “Interactive Computer Systems for Managers: A Modest Proposal,”Sloan
Management Review, 18, no.1 (Fall 1976), 1-17.
Server Side Scripting
Server side scripting merupakan dokumen-dokumen yang digunakan dalam
membangun suatu aplikasi internet yang dijalankan pada sisi server dan dikirimkan ke
browser dalam bentuk HTML. Jika yang diinginkan oleh seorang user adalah file yang
mengandung perintah server side maka server web akan menjalankan dahulu program
tersebut lalu mengirimkannya kembali ke browser dalam bentuk HTML sehingga dapat
diterjemahkan oleh browser.
ANALISIS MASALAH
Identifikasi Masalah
Mengenal masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam tahap
analisis sistem. Masalah (problem) dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang
harus dipecahkan. Masalah inilah yang menyebabkan sasaran dari system tidak dapat
dicapai. Oleh karena itulah pada tahap analisis system langkah pertama yang harus
dilakukan oleh analisis adalah mengidentifikan terlebih dahulu masalah-masalah yang
terjadi.
Mengidentifikasi masalah dimulai dengan mengkaji subyek permasalahan yang
ada. Adapun masalah yang ada di Imworks adalah belum adanya media seperti website
yang dapat memberikan fasilitas bagi mitra perusahaan, atau pihak manajemen untuk
bertukar informasi secara online.
Dari permasalahan yang terjadi penulis mengidentifikasikan penyebab terjadi
masalah yaitu belum adanya suatu media website yang dapat memberikan informasi
tentang Imworks dan produknya yang bersifat global yang bisa diakses oleh
penggunanya dari seluruh wilayah baik dalam maupun luar, yaitu situs web
Analisis Pieces
Tahap analisis sistem dengan PIECES Analysis, data yang sudah terkumpul
kemudian di analisis untuk menentukan berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam
melakukan pengembangan sistem seperti performance, informasi, economic, control,
efficiency, service, analisis kebutuhan sistem, analisis kebutuhan keluaran sistem dan
analisis kebutuhan masukan yang diperlukan pada sistem yang akan dibangun.
Analisis Kinerja (Performance)
Kinerja merupakan bagian pendukung dalam kelancaran proses kerja dalam
suatu perusahaan, kinerja yang dimaksud adalah kinerja sistem. Kinerja dapat diukur dari
thoughput dan response time. Throughput adalah jumlah dari pekerjaan yang dapat
dilakukan suatu sistem tertentu. Response time adalah rata – rata waktu yang tertunda
diantara dua pekerjaan ditambah dengan waktu response untuk menangani pekerjaan
tersebut.


Table Analisis Performance
Faktor
Hasil Analisis
Throughput
− informasi ImWorks dan
pencatatan record
penjualan mitra dilakukan
dalam satu aktifitas.

Response time
− Waktu yang dibutuhkan
relatif lama.

Analisis kinerja sistem informasi berbasis web dilakukan untuk mengetahui
bagaimanakah sistem tersebut bekerja, sehingga dapat disusun rancangan perubahan
sistem lama menjadi sistem informasi berbais web.
Analisis Informasi (Information)
Informasi pada website hendaknya mudah untuk dibaca dan dipelajari. Pada
sistem yang lama hal tersebut belum terwujud dengan baik karena jika ingin mengakses
informasi yang ada haruslah ke sekolah, itu pun jika hari libur, atau jam-jam tertentu
informasi sudah tidak bisa di akses, sehingga menyulitkan masyarakat untuk
mendapatkan informasi yang mereka inginkan.
Terdapatnya sebuah sitem informasi dengan menggunakan media web,
memungkinkan siapa saja, di mana saja dapat mengakses informasi, dan hubungan
pertukaran informasi antar user maupun dengan admin dapat berlangsung secara real
time.
Analisis Ekonomi (Economic)
Analisis dari segi ekonomi, penggunaan sistem lama saja kurang efisien
dibandingkan dengan adanya penambahan sistem informasi berbasis web. Dengan
kesamaan biaya yaitu biaya domain dan hosting Rp.500.000,- per tahun, penggunaan
sistem lama saja tidak efektif jika dibandingkan dengan sistem informasi berbasis web
yang lebih mendukung fungsi-fungsi informasi.
Analisis Kontrol (Control)
Peningkatan terhadap pengendalian untuk mendeteksi dan memperbaiki
kesalahan serta kekurangan yang akan terjadi. Pengendalian atau control dalam sebuah
sistem sangat diperlukan keberadaannya untuk menghindari dan mendeteksi secara dini
terhadap penyalah gunaan atau kesalahan sistem serta untuk menjamin keamanan data
atau informasi yang ada di SMA Negeri 4 Purworejo. Dengan adanya control, maka tugas
atau kinerja yang mengalami gangguan bisa di perbaiki secara cepat.
Analisis Efisiensi (Efficiency)
Analisis efisiensi sistem informasi berbasis web dilakukan untuk mengetahui
seberapa efisien sistem tersebut bekerja, sehingga dapat disusun rancangan perubahan
sistem lama menjadi sistem informasi berbasis web. Berikut adalah hasil analisis efifiensi
sistem informasi berbasis web.
Tabel 3.2 Hasil Analisis Efisiensi Sistem Informasi Berbasis Web
No.
Faktor

Hasil analisa sistem informasi berbasis web


1
Biaya

Sistem membutuhkan biaya domain dan hosting Rp.500.000,- per tahun.


2
Waktu


Sistem dapat mempercepat penyebaran informasi dalam satu waktu, informasi dapat diakses di berbagai tempat selamatersedia koneksi internet.

3
Manusia(SDM)


Sistem dapat memperkecil tenaga untuk input data karena dalam satu waktu, data dapat diakses di berbagai tempat.

Analisis Pelayanan (Service)
Peningkatan terhadap pelayanan yang diberikan oleh sistem. Dalam suatu
perusahaan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat merupakan tujuan utama.
Pada ImWorks pelayanannya kepada masyarakat sangat diutamakan.
Table 3.2 Analisis Service
Faktor
Hasil Analisis
Sistem Informasi Web
− Ragam
Informasi
− Pelayanan yang diberikan
hanya sebatas pada saat jam
kerja dan lewat fasilitas telepon
atau dikantor.
− Pelayanan atau
pengaksesan informasi
dapat diakses di mana saja,
kapan saja selama terdapat
koneksi internet.
− Jumlah
Procedure
dalam
mendapatkan
informasi
− Untuk mendapatkan sebuah
informasi mitra harus ikut aktif
(baik via telp atau datang
secara langsung)


Referensi:
http://repository.amikom.ac.id/files/Publikasi_09.22_.1031_.pdf

Kamis, 24 Oktober 2013

Etika dan Profesionalisme

Etika dan Profesionalisme TSI

Apakah Etika dan Profesionalisme TSI?

Etika
  • Pengertian Etika
        Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
  • Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
  • Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
  • Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah :
  • Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.
  • Kumpulan asas / nilai yang berkenaan dengan akhlak
  • Nilai mengenai yang benar dan salah yang dianut masyarakat
Etika secara umum dapat dibagi menjadi :
a.  Etika Umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.
b.    Etika Khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang  kehidupan yang khusus.
Etika Khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :
a.    Etika Individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
b.    Etika Sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
Ada dua macam etika yang harus dipahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia :
1.   ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
2.   ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Profesionalisme
  • Pengertian Profesi
Tangkilisan (2005) menyatakan bahwa, Profesi sebagai status yang mempunyai arti suatu pekerjaan yang memerlukan pengetahuan, mencakup illmu pengetahuan, keterampilan dan metode.
Menurut DE GEORGE :
PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
  • Pengertian Profesional
- Menurut Hardjana (2002), pengertian profesional adalah orang yang menjalani profesi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
-   Menurut Tanri Abeng (dalam Moeljono, 2003: 107), pengertian professional terdiri atas tiga unsur, yaitu knowledge, skill, integrity, dan selanjutnya ketiga unsur tersebut harus dilandasi dengan iman yang teguh, pandai bersyukur, serta kesediaan untuk belajar terus-menerus.
  • Pengertian Profesionalisme
Menurut Siagian (dalam Kurniawan, 2005:74), profesionalisme adalah keandalan dalam pelaksanaan tugas sehingga terlaksana dengan mutu yang baik, waktu yang tepat, cermat dan dengan prosedur yang mudah dipahami dan diikuti oleh pelanggan atau masyarakat.
Menurut Abdulrahim (dalam suhrawardi, 1994 :10) bahwa profesionalisme biasanya dipahami sebagai kualitas yang wajib dipunyai setiap eksekutif yang baik, dimana didalamnya terkandung beberapa ciri sebagai berikut :
1.  Punya Keterampilan tinggi dalam suatu bidang, serta kemahiran dalam mempergunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan dengan bidang tadi.
2.  Punya ilmu dan pengetahuan serta kecerdasan dalam menganalisa suatu masalah dan peka didalam membaca situasi, cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan.
3. Punya sikap berorientasi ke hari depan, sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terentang dihadapannya.
4.   Punya sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi dirinya dan perkembangan pribadinya.

Mengapa Etika dan Profesionalisme TSI dibutuhkan?

Etika membantu manusia untuk melihat secara kritis moralitas yang dihayati masyarakat, etika juga membantu merumuskan pedoman etis yang lebih kuat dan norma-norma baru yang dibutuhkan karena adanya perubahan yang dinamis dalam tata kehidupan masyarakat.
Etika membantu untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu dilakukan dan yang perlu dipahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
Tujuan Etika dalam teknologi informasi: sebagai dasar pijakan atau patokan yang harus ditaati dalam teknologi informasi untuk melakukan proses pengembangan, pemapanan dan juga untuk menyusun instrument.
Sasaran, etika digunakan dalam teknologi informasi agar:
  1. mampu memetakan permasalahan yang timbul akibat penggunaan teknologi informasi itu sendiri.
  2. Mampu menginventarisasikan dan mengidentifikasikan etika dalam teknologi informasi.
  3. Mampu menemukan masalah dalam penerapan etika teknologi informasi.

Kapan Etika dan Profesionalisme TSI diterapkan?

Etika dan profesionalisme TSI digunakan/dapat diterapkan ketika seseorang hendak menggunakan teknologi sistem informasi yang ada. Etika dan profesionalisme hendaknya dijalankan setiap waktu pada saat yang tepat. Sebuah pertanggung-jawaban dari suatu etika dan profesionalisme harus nyata.

Siapa yang menerapkan Etika dan Profesionalisme TSI?

Semua elemen di dalam suatu lingkungan kerja yang menggunakan (berhubungan dengan) TSI hendaknya menerapkan Etika dan Profesionalisme TSI. Mereka yang ada di lingkungan kerja ini harus sadar dan bertanggung jawab untuk mengimplementasikan etika dan profesionalisme TSI untuk menghindari isu-isu etika.
Sumber:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26668/5/Chapter%2520I.pdf
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25144/4/Chapter%2520II.pdf
ikma10fkmua.files.wordpress.com/2010/10/filsafat-fkm-7-etika-trias.ppt

Kamis, 03 Oktober 2013

Computer Based Information System (CBIS)



Abstrak
Informasi adalah salah satu dari lima jenis utama sumber daya yang dapat dipakai oleh manajer. Semua sumber daya termasuk informasi dapat dikelola. Pengelolaan informasi semakin penting seiring dengan rumitnya kegiatan bisnis yang setiap saat membutuhkan informasi yang akurat dan demi pelayanan yang memuskan pada para pelanggan.
Akibat perkembangan lembaga yang dikelolanya manajer tidak hanya mengelola sumber daya fisik saja, tetapi juga sumber daya konseptual. Sumber daya konseptual sangat abstrak sehingga sulit untuk dikelola. Cara pengelolaannya adalah dengan mengubah menjadi simbol-simbol yang memiliki value(nilai), sehingga dapat dikalkulasi. Cara pengelolaan sumber daya koseptual ini yang paling tepat adalah dengan menggunakan bantuan mesin, dalam hal ini komputer. Dengan demikian sistem informasi manajemen akan lebih efektif apabila dikelola atauberbasis komputer. Sistem informasi berbasis komputer tersebut lebih dikenal sebagai (computer-based information system)atau CBIS.

Pengertian CBIS

Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis. Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer. Berikut penjelasan masing-masing istilah tersebut.
Data
Data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian dan merupakan kesatuan nyata yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar suatu informasi.
Informasi
Informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan.
Sistem
Sistem merupakan entitas, baik abstrak maupun nyata, dimana terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait satu sama lain. Objek yang tidak memiliki kaitan dengan unsur-unsur dari sebuah sistem bukanlah komponen dari sistem tersebut.

Pentingnya Manajemen Informasi Dalam Perusahaan


Manajemen informasi sebagai suatu sumber mempunyai pola yang sama. Manajer bertanggung jawab untuk mengumpulkan data mentah dan memprosesnya menjadi informasi yang dapat digunakan. Ia harus memastikan bahwa orang yang ada dalam perusahaan akan dapat menerima informasi dengan bentuk yang tepat, pada saat yang tepat pula, sehingga informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung proses manajemen. Yang terakhir, manajer harus membuang informasi yang kuno, tidak lengkap, dan salah, dan menggantinya dengan informasi yang dapat digunakan. Semua aktifitas ini disebut manajemen informasi atau Information Management.
Minat terhadap manajemen informasi telah meningkat sejak tahun-tahun terakhir ini, yaitu tidak hanya dalam dunia bisnis, namun juga di semua bidang dimana sumber dikelola. Dua alasan utama mengenai hal ini adalah karena meningkatnya kekompleksan tugas manajemen dan keinginan untuk menggunakan peralatan pemecahan masalah yang lebih baik.

Meningkatnya kekompleksan tugas manajemen

Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi meningkatnya kekompleksan tugas manajemen:

Pengaruh Ekonomi Internasional
Perusahaan dengan berbagai ukuran sekarang ini menjad subjek bagi pengaruh ekonomi yang datang dari mana saja diseluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dalam engaruh pada nilai dolar US dalam perbandingannya dengannilai mata uang asing yang mempunyai keseibangan ekspor.

Meningkatnya kekompleksan Teknologi
Kita dapat melihat ontoh teknologi dalam bisnis setiap hari, yaitu bar code scanner yang ada ada supermarket, sistem reservasi pelabuhan udara yang menggunakan komputer, mesin teller otomatis dan closed-circuit television dalam garasi parkir.

Penyusunan Kerangka Waktu
Manajer harus bertindak secara cepat untuk merespon tekanan dari pelanggan, pesaing, dan pengendali stok. Setap jengkal operasi bisnis bergerak dengan cepat sekarang ini daripada yang terjadi sebelumnya. Perwakilan penjualan (sales representative) melingkup keseluruh wilayahnya dengan menggunakan jet, pesanan penjualan ditransmisikan ke kantor pusat melalui satelit, dan pengiriman pesanan disampaikan ada hari itu juga.

Tekanan Pesaing
Keinginan untuk beroperasi dengan cara yang paling efisien telah diperkuat dengan meningkatnya persaingan untuk mendapatkan dolar dari para pelanggan. Tekanan bukan saja berasal dari perusahaan domestik, namun juga oleh perusahaan di luar negri.

Tekanan Sosial
Tidak semua tekanan yang bersfat lingkungan merupakan ciri dari produksi, namun secara ironis, non produksi un mengakibatkan tekanan yang beesifat lingkungan. Hal ini benar dalam kasus adanya ketidaksenangan dari masyarakat yang tidak mengnginkan adanya produk  atau jasa tertentu.

Keberadaan Alat Untuk Memecahkan Masalah

Semetara tugas Manajer menjadi lebih kompleks, ada usaha untuk meningkatkan efektifitas dalam pemecahan masalah. Kesemuanya ini terpusat pada teknik kwantatif dan peralatan elektronik, seperti komputer. Selama tahun 1950-an, matematika tingkat lanjut digunakan untuk memecahkan masalah bisnis, basanya dalam bidang manufaktur. Usaha awal ini disebut operation Research (OR). Selama tahun 1960-an, istlah management science dikenal sebagai metode kwantatif yang deiterapkan dalam skala luas, misalnya dalam bidang keuangan dan marketing.

Sistem Informasi Akuntansi (SIA)
SIA adalah Organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan.

Sistem Akuntansi:
·         Formulir/ dokumen/media:
   Merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya transaksi.
·         Jurnal :
Merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat, mengklasifikasikan dan meringkas data keuangan dan data lainnya.




Tujuan umum pengembangan sistem akuntansi:

Mengurangi biaya klerikal dalam penyelenggaraan catatan akuntansi
·         Dalam pengembangan sistem srngkali ditujukan unt menghemat biaya, shg unt menghasilkan informasi keuangan perlu dipertimbangkan antara manfaat yg diperoleh dg pengorbanan yg dikeluarkan, jika pengorbanan unt memperoleh infrmsi lebih besar dr manfaat yg diperoleh, sistem yg ada perlu dirancang kembali unt mengurangi pengorbanan
Memperbaiki pengendalian akuntansi dan pengecekan intern
·         Karena dengan cara memperbaiki tingkat keandalan informasi dan menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggungjawaban dan perlindungan kekayaan perusahaan, shg pengembangan sistem akuntansi dapat pula ditujukan unt memperbaiki pengecekan intern agar informasi yg dihasilkan oleh sistem dpt dipercaya
Memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada :
·         Mengenai mutu, ketepatan penyejian dan struktur informasi yg sesuai dengan tuntutan manajemen
Menyediakan informasi bagi pengelolaan usaha baru:
  • Kebutuhan pengembangan sistem akuntansi terjadi apabila prsh baru didirikan ( dlm hal ini diperlukan pengembangan sistem akuntansi yg lengkap) atau prsh menciptakan usaha baru yang berbeda dg usaha yg sudah dijalankan ( memerlukan tdk selengkap yg baru )


Sistem Akuntansi Untuk Melaksanakan Bisnis

Ada beberapa contoh sistem akuntansi yg digunakan diantaranya :
·         Sistem Pembayaran melalui Perbankan yg mengembalikan cancelled check kpd pembuat cek,
·         Sistem penjualan polis
·         Sistem penjualan Over the counter Sale,
·         Sistem Penjualan – COD Sale ( cash on delivery sale )


Sistem akuntansi persediaan

Yang terdiri dari jaringan prosedur sebagai berikut:
·         Prosedur pencatatan harga pokok produk jadi
·         Prosedur pencatatan harga pokok produk yang dijual
·         Prosedur pencatatan harga pokok produk yang dikembalikan oleh pembeli
·         Prosedur pencatatan harga pokok produk dalam proses
·         Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli
·         Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan ke pemasok
·         Prosedur permintaan dan pengeluaran barang gudang
·         Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan ke gudang
·         Prosedur penghitungan fisik persedian


Sistem Informasi Manajemen (SIM)

SIM merupakan sebuah bidang yang mulai berkembang sejak tahun 1960an. Walau tidak terdapat konsensus tunggal, secara umum SIM didefinisikan sebagai sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: “Sistem Informasi”, “Sistem Pemrosesan Informasi”, “Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan”. SIM menggambarkan suatu unit atau badan yang khusus bertugas untuk mengumpulkan berita dan memprosesnya menjadi informasi untuk keperluan manajerial organisasi dengan memakai prinsip sistem. Dikatakan memakai prinsip sistem karena berita yang tersebar dalam pelbagai bentuknya dikumpulkan, disimpan serta diolah dan diproses oleh satu badan yang kemudian dirumuskan menjadi suatu informasi.

Baskerville dan Myers berargumentasi bahwa SIM sudah saatnya menjadi sebuah disiplin ilmu secara mandiri. Davis menawarkan konsensus, bahwa setidaknya terdapat lima aspek yang dapat dikategorikan sebagai ciri khusus bidang SIM :
Proses Manajemen, seperti perencanaan strategis, pengelolaan fungsi sistem informasi, dan seterusnya.
Proses Pengembangan, seperti manajemen proyek pengembangan sistem, dan seterusnya.
Konsep Pengembangan, seperti konsep sosio-teknikal, konsep kualitas, dan seterusnya.
Representasi, seperti sistem basis data, pengkodean program, dan seterusnya.
Sistem Aplikasi, seperti Knowledge Management, Executive System, dan seterusnya.
Sebagai dasar pengetahuan, Informasi adalah kumpulan dari data-data yang diolah sehingga menjadi sesuatu yang berarti dan bermanfaat. Sedang data adalah fakta-fakta, angka-angka atau statistik-statistik yang dari padanya dapat menghasilkan kesimpulan. Kedepannya informasi -informasi yang terkumpul dapat diolah menjadi sebuah pengetahuan baru.

DATA >> INFORMASI >> PENGETAHUAN

Sistim Informasi Manajemen kini tidak lagi berkembang dalam bidang usaha saja, tapi sudah digunakan dalam berbagai bidang, dari mulai pendidikan, kedokteran, indistri, dan masih banyak lagi. Ini menandakan bahwa Informasi yang akurat dan cepat dibutuhkan di berbagai bidang.

Ada banyak teknologi yang mendukung SIM baik secara online atau offline. Tapi dasar dari aplikasi yang digunakan pada Sistiem Informasi Manajemen adalah aplikasi databese. sistem ini harus mampu mengolah data yang dikumpulkan pada database menjadi sebuah produk informasi yang dibutuhkan penggunanya. Sistim ini juga harus bisa membagi informasi yang diproduksinya menjadi beberapa tingkatan, sehingga setiap tingkatan hanya mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.

Pada sebuah Instansi, manajemen selalu terlibat dalam serangkaian proses manajerial, yang pada intinya berkisar pada penentuan: tujuan dan sasaran, perumusan strategi, perencanaan, penentuan program kerja, pengorganisasian, penggerakan sumber daya manusia, pemantauan kegiatan operasional, pengawasan, penilaian, serta penciptaan dan penggunaan sistem umpan balik. Masing-masing tahap dalam proses tersebut pasti memerlukan berbagai jenis informasi dalam pelaksanaannya.

Penentuan Tujuan dan Sasaran
Dapat dinyatakan secara aksiomatis bahwa suatu organisasi dibentuk dan dikelola untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam rangka penentuan juga pencapaian tujuan tersebut maka dibutuhkan informasi-informasi yang dapat memberikan gambaran kasar atau global tentang kecenderungan-kecenderungan yang mungkin terjadi, baik secara internal organisasi itu sendiri maupun pada lingkungan di mana organisasi bergerak. Informasi-informasi yang dibutuhkan tersebut secara eksternal dapat mencakup bidang politik, keamanan, ekonomi, sosial budaya, serta arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara internal informasi yang diperlukan adalah tentang produk yang akan dihasilkan dikaitkan dengan kemampuan organisasi dalam penyediaan dan penguasaan berbagai sarana, prasarana, dana dan sumber daya manusia.

Perumusan Strategi
Keseluruhan upaya pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi memerlukan strategi yang mantap dan jelas. Salah sat instrumen ilmiah yanng umum digunakan dalam penentuan strategi organisasi ialah analisis SWOT, yaitu Strengths (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman). Agar analisis SWOT benar-benar ampuh sebagai instrumen pembantu dalam penentuan dan pelaksanaan strategi organisasi, diperlukan informasi menngenai kekuatan, kelemahan, peluang serta ancaman yang mungkin dihadapi oleh organisasi tersebut.

Perencanaan
Strategi yang telah dirumuskan dan ditetapkan memerlukan penjabaran melalui penelenggaraan fungsi perencanaan. Karena perencanaan merupakan salah satu hal yang penting dalam organisasi, perlu diketahui secepat mungkin berbagai resiko dan faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab kegagalan pelaksanaan tujuan dan strategi organisasi. Informasi-informasi yang dibutuhkan dalam proses perencanaan adalah 5 W 1 H, yaitu what(apa), when(kapan), where(di mana), who(siapa), why(mengapa), dan how(bagaimana).

Penyusunan Program Kerja
Penyusunan program kerja merupakan rincian sistematis dari rencana kerja jangka waktu menengah. Keenam pertanyaan di atas harus terjawab dalam penyusunan program kerja dimana ia harus bersifat kuantitatif, menyatakan secara jela dan konkrit hasil yang diharapkan, standar kinerja jelas, mutu hasil pekerjaan ditetapkan secara pasti, dan program kerja disusun sedemikian rincinya sehingga dapat dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan operasional.

Pengorganisasian
Organisasi dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang terikat secara formal dan hierarkis serta bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Organisasi dapat menjadi wadah dimana sekelompok orang bergabung dan menempati wilayah-wilayah tertentu untuk melakukan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Organisasi dapat pula menjadi tempat berinteraksi antar anggota organisasi tersebut maupun dengan anggota organisasi lainnya.

Tolok ukur keberhasilan suatu organisasi tidak dilihat secara inkremental dari apa yang dicapai oleh masing-masing satuan kerja melainkan dari sudut pandang yang bersifat holistik dalam arti keberhasilan organisasi secara keseluruhan.Penyelesaian tugas yang menjadi tanggung jawab fungsional satuan kerja tertentu memerlukan interaksi, interdependensi dan interrelasi dengan semua satuan kerja lainnya. Dan tentunya proses seperti ini memerlukan suatu sistem informasi yang baik.

Penggerakan SDM
Penggerakan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan fungsi yang teramat penting dalam manajemen sekaligus paling sulit.Penggerakan SDM yang tepat dan efektif memerlukan informasi yang handal. Misalnya, informasi tentang klasifikasi jabatan, informasi tentang uraian dan analisis pekerjaan,informasi tentang standar mutu yang diterapkan dalam manajemen, dan berbagai informasi lainnya yang memungkinkan satuan kerja yang mengelola SDM dalam organisasi menyelenggarakan berbagai fungsinya dengan baik.

Penyelenggaraan Kegiatan Operasional
Penyelenggaraan kegiatan operasional merupakan bagian yang sangat penting dari keseluruhan proses manajerial dan bahkan merupakan tes apakah sebuah organisasi berjalan di atas “rel” yang benar atau tidak. Hal ini dikarenakan manajemen bersifat situasional dimana penerapan prinsip-prinsip manajemen harus diterapkan secara universal dengan memperhitungkan faktor situasi, kondisi, ruang dan waktu.Manajemen juga berorientasi pada hasil optimal dari segi produk, efisiensi dan efektivitas kerja.Sehingga penyelenggaraan kegiatan operasional yang baik dan tepat hanya akan terwujud bila didukung dengan berbagai informasi yang tepat pula.

Pengawasan
Pengawasandiperlukan atas pertimbangan bahwa penyelenggaraan seluruh kegiatan operasional memungkinkan terjadi kesalahan yang berarti dapat berakibat pada tidak terwujudnya tingkat efisiensi, efektivitas dan produktivitas yang diharapkan. Oleh karena itu, kegiatan pengawasan jelas memerlukan sekaligus menghasilkan informasi tentang penyelenggaraan berbagai kegiatan operasionalyang sedang terjadi.

Penilaian
Seperti halnya dalam pengawasan, informasi dalam proses penilaian juga sangat dibutuhkan. Informasi ini dapat diperoleh melalau berbagai wawancara, penyebaran kuesioner kepada pihak-pihak lain yang dianggap mengetahui pengetahuan mendalam tentang seluruh proses manajerial, dan teknik-teknik lainnya yang dipandang perlu dan tepat digunakan.

Sistem Umpan Balik
Semua informasi yang diperoleh—terutama dari hasil penilaian—diumpanbalikkan kepada berbagai pihak yang berkaitan dengan manajerial organisasi, termasuk kepada para pemodal, pemilik saham, manajemen puncak, para pimpinan satuan usaha, dan lainnya. Hal ini penting dilakukan supaya manajerial organisasi yang bersangkutan tetap menghasilkan efektivitas, efisiensi serta produktivitas yang tinggi sehingga tujuan awal organisasi dapat terwujud secara maksimal.

Penjelasan di atas membuktikan bahwa informasi sangat dibutuhkan dalam pengembangan suatu organisasi. Untuk membangun informasi yang handal dibutuhkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang mampu menampung dan mengolah data serta menghasilkan informasi yang tepat dan akurat setiap saat. Tanpa dukungan SIM yang tangguh, maka akan sulit organisasi yang baik akan terwujud, karena SIM menolong lembaga-lembaga bidang apapun dalam mengintegrasikan data, mempercepat dan mensistematisasikan pengolahan data, meningkatkan kualitas informasi, mendorong terciptanya layanan-layanan baru, meningkatkan kontrol, meng-otomatisasi-kan sebagian pekerjaan rutin, menyederhanakan alur registrasi atau proses keuangan, dan lain sebagainya.

Referensi: